Monday, July 31, 2017

Biji Kopi Terbaik

"Istri itu seperti biji kopi sekelas Panama Geisha dan Ethiopian Yirgacheffe, Le. Kalau kita sebagai suami -yang membuat kopi- memperlakukannya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar. Aroma khasnya, rasa aslinya yang seharusnya tidak keluar, Le. Rasanya nggak pas."
"Kalau kita sudah memilih yang terbaik, seperti Ayah memilih Ibu dan kamu memilih istri kamu, seperti kita memilih biji kopi yang terbaik, bukan salah mereka kalau rasanya kurang enak. Salah kita yang belum bisa melakukan yang terbaik sehingga mereka juga menunjukkan yang terbaik buat kita."
--  Critical Eleven by Ika Natassa

He used to tell me how lucky he was to have me.

Seakan aku adalah biji kopi terlangka seperti penjelasan diatas, ia melihatku dengan sepasang bola mata cokelat yang berbinar-binar.

He used to tell me how he loved my unique imperfections.

Seakan aku adalah biji kopi terunik , ia mencintai sifat ku yang keras kepala, kesulitan ku mengeluarkan uang berlebihan, serta hobi anehku yang senang berbelanja pakaian-pakaian bekas.

He used to tell me how much he loved me, and exceeded the amount of my love for him.

Seakan aku adalah biji kopi terbaik, ia sering mengutarakan cinta nya yang melebihi semua jumlah cintaku padanya. Ketika aku mengucapkan cinta sedunia, ia akan membalas cinta se antariksa.

Ketika aku berusaha untuk membenci nya agar bisa cepat melupakannya, hati dan pikiran ku tidak lagi selaras dengan keinginan.

Aku ingin membencinya, tetapi yang tersisa hanyalah ingatan-ingatan bahagia bersama nya. Bahkan memori kecil pun kusapu pelan-pelan dan kususuri tiap detik dengan rasa yang dulu ada.

Disaat dia memberikan boneka beruang berisikan gabus yang bisa diubah menjadi bantal leher, berhubung waktu itu aku akan cuti pertama setelah setengah tahun tidak pernah menginjak rumah.
Dia mengalungkan nya dileherku dan mengubah nya menjadi boneka beruang. Ia begitu fokus hingga ia tidak sadar aku memperhatikan wajahnya, kebetulan sekali pikirku, ia memiliki rupa yang mirip dengan beruang yang sekarang menjadi wadah tetes air mata ku setiap malam disamping ketika aku tidur dikamar ini.


Aku ingin membencinya, tetapi mengapa terus kenangan indah demi kenangan indah yang terputar di kepala.

Disaat dia datang di hari Minggu Pagi ketika kami masih bersama di Papua dengan seplastik udang mentah. Ia sangat menyukai masakan ku, entah itu dipaksa atau memang dia suka. Aku bingung namun aku tetap menyanggupi memasak tom yam udang untuk mengisi perut nya. Ternyata dia malah suka dengan hasil yang kudapat dari cari-cari resep google, dan mengelus kepala ku sembari memuji keahlian ku mengolah udang. Ia begitu fokus makan hingga ia tidak sadar aku memperhatikan wajahnya, dimana setiap gigitan yang dia rasa enak luar biasa dia akan memejamkan mata sembari keringat mulai bercucuran dari kulit kepala dan dahinya.

Aku ingin membencinya, tetapi tidak bisa. Karena hati kecil ku pun sadar, aku bahagia bersamanya. Hingga aku tersadar, kesalahan-kesalahan yang aku perbuat, apakah membuat ia mampu melupakan momen-momen bahagia kami bersama?

"Kamu adalah dunia ku sekarang, dengan keberadaanmu yang merubah segalanya dan menjadi bagian besar dalam hidupku yang kujalani ini."

He said that to me, how I have changed him and I'm now becoming his life.
Hal yang sama juga berlaku terhadapku. Aku sangat mencintainya, hingga semua hal disekitar ku mengingatkan semua tentangnya.

Disaat aku menyikat gigi, aku ingat kebiasaannya memuntah-muntahkan odol di wastafel.
Disaat aku ingin beranjak pergi, aku ingat kebiasaannya mengecek jangan sampai ada barang ketinggalan. Disaat aku menyiapkan kopi, aku ingat kebiasaannya memperhitungkan perbandingan kopi, gula dan air dicangkir nya.

Bagaimana caranya, melupakan seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidup dan keseharian mu? Dimana wangi kulit nya bahkan masih bisa tercium ditengah-tengah kesendirian ku ini?

Bagaimana caranya, membenci seseorang yang pernah mengutarakan keinginannya untuk menikahi mu dengan segala keterbatasannya?

Malam ia meminangku, tidak ada balon-balon atau teriakan kejutan dari orang ramai, tidak ada yang mengabadikan momen itu bahkan tidak ada alunan lagu yang menyertai. Yang ada hanya kami berdua, berbasuh air mata di pipi, mengutarakan janji untuk saling menjaga. Dan di malam itu, Demi Tuhan, aku berdoa kepada-Nya, agar jadikanlah lelaki didepan ku menjadi pasangan ku kelak, karena aku menginginkannya dalam hidupku, seperti ia menginginkan aku di hidupnya. Tuhan, hanya dengan kehendak-Mu lah, kumohon biarkan lah niat baik nya menjadi pinangan yang pertama dan terakhir di hidupku. Dan dengan air mata yang terus mengalir di pipi kami, aku menjawab, "Ya, aku mau.."

Mataku hanya terpaku pada secangkir kopi yang sedari tadi sudah aku seduh dan sekarang dingin.

Biji kopi seperti apa sebenarnya yang sepadan dengan diri ku sekarang?

Apakah aku masih biji kopi terbaik yang beraroma khas, atau hanya ampas.

Jakarta, 7/31/2017
01:35 am

Sunday, July 30, 2017

Kualanamu, 30/07/2017

I wish he could understand how it feels to love a man like I did
I wish he would be a better man for me
I wish he would listen to me
Perhaps he would do it all
If he knew how it hurts when I lose the one I wanted
How it hurts to be taken for granted
And everyhing I had got destroyed
Perhaps he would do it all
If he tried to lower his ego and stop his rage
When he realized he had hurt me this far
Has he ever tried sleeping with a broken heart?
Well, he could try sleeping in my bed 
Lonely, only, nobody ever shut it down like him
So tonight, I'm gonna find a way to make it without you
Tonight, I'm gonna find a way to make it without you
I'm gonna hold on to the times that we had 
Tonight, I'm gonna find a way to make it without you

Tuesday, April 11, 2017

My Coffee

Two steaming cups of tempting brew; one for me and one for you. At a cozy little table made for two. His words are better than the most potent dosages of caffeine. I can drink him in bitter, I can sometimes have him sweet. But he needs no additives.

Never had I imagined falling in love with such a mature man. And his maturity is the best part, it would always calm down the storms, especially for me, who is afraid even just for a little rain. 

He's so much like a fresh cup of coffee in the morning. First thing in the morning.
I am shattered, tired of every dreadful activities, too much exhaustion, too complicated minds.
But if my day begins with him, I know no future endeavors can challenge me.


He’s so much like a fresh cup of coffee in the morning. To have his kisses whenever I’d like, to always hold my cold hands tight. He will calm me down when I come undone.

Friday, December 11, 2015

Mengejar Cita : Menjemput Beasiswa LPDP

Halo! Ngga berhenti menyebut Alhamdulillah, Alhamdulillah wa syukurillah ‘ala ni’matillah. Penantian yang ditunggu-tunggu telah datang. Yap, pada tanggal 10 Desember 2015, saya berhasil lolos seleksi wawancara dan proses-proses tes lainnya yang diselenggarakan Lembaga Pengelolaan Dana Pendidikan (LPDP).


Udah banyak yang ngepost tentang tips-tips lolos LPDP dan informasi-informasi yang saya dapat di internet banyak membantu saya. Terimakasih yaa para penulis blog yang tidak bisa saya hapal satu persatu! Berkat kalian saya jadi memahami keseluruhan dan gambaran tes-tes LPDP dan bisa mempersiapkan semaksimal mungkin. Maka dari itu, mudah-mudahan postingan ini bisa turut membantu para scholarship hunter yang sedang menggali informasi seputar LPDP sebanyak mungkin.

1. Banyak cari informasi mengenai LPDP itu sendiri!

Caranya? Buanyakk banget, dari website nya sendiri, sampai booth/stand LPDP di berbagai acara, seperti jobfair maupun seminar-seminar. Beberapa seminar LPDP yang saya pernah datangi yaitu Europe Higher Education Fair, Inspirative Talks oleh I4, Jobfair UI, etc. Secara garis besar, presentasi yang diputar hampir sama isinya, tapi yang bermanfaat adalah sharing dari para awardee dan sharing dengan Direktur Keuangan LPDP. Hal-hal yang tidak ditulis di slideshow itu lah yang banyak menginspirasi saya untuk memahami LPDP luar dalam (cie..)

2. Lengkapi kelengkapan pendaftaran!



Tambahan : Menulis essay (500 sampai 700 kata) dengan tema: “Kontribusiku Bagi Indonesia: kontribusi yang telah, sedang dan akan saya lakukan untuk masyarakat / lembaga / instansi / profesi komunitas saya” dan “Sukses Terbesar dalam Hidupku”;

Nah essay itu biasanya yang membutuhkan waktu paling lama. Dimulai dari satu baris, jadi paragraf, eh diapus lagi, mulai lagi, coret-coret, baca buku-buku inspiratif, eh ngapus lagi. Kenapa rempong? Karena essay ini akan dipertanggung jawabkan nanti pas interview, dan kita harus memahami betul apa yang kita tulis. Saya yakin udah banyak yang menulis tips menulis essay LPDP, bahkan ada yang buka les khusus untuk menulis. Tapi intinya, BE YOU! Buat apa bikin essay bagus-bagus dewa tapi isinya cuma melebih-lebihkan dan hampa. ESSAY ITU BUKAN CV. Ya, memang bagus menulis kelebihan, pengalaman, dan prestasi-prestasi. Tapi sebenarnya udah dibikin sendiri kok kolom-kolom untuk mengisi hal-hal tersebut di portal online ketika mendaftar. Jadi buat lah essay sederhana namun mencakup semua informasi penting yang relevan dengan bidang apa yang akan ditekuni. 

Think : “"Apa yang saya sumbangkan untuk negara, dan tidak pernah berpikir fasilitas apa yang diberikan oleh negara pada saya." Oiya, bagi ada yang mau bertanya lebih lanjut tentang essay, feel free to ask! :D

Oiya, ketika saya mendaftar saya belum dapat LOA. Jadi, tidak perlu pesimis untuk yang masih menjemput dan mencari LOA dari universitas tujuan! Yang udah dapet LOA juga belum tentu lolos LPDP, kok. LPDP adalah beasiswa yang tidak mematokkan jumlah peserta yang lolos atau memberikan kuota awardee, sehingga sebenarnya kita bersaing dengan diri kita sendiri.

3. Tahap Interview!

Nah, setelah semua hal dilengkapi, pasti kalian akan dipanggil untuk tahap interview. Jadi make sure semua nya komplit sampai akhir pendaftaran ya. Saya sendiri milih lokasi tes di Bandung, bukan di Jakarta. Ada yang bilang, persaingan di Jakarta lebih ketat karena 1 nasional ngumpul semua di Jakarta. Yang bilang itu ke saya adalah 2 orang di grup saya yang kemarin gagal di Jakarta dan mencoba lagi di Bandung. Ya, percaya ngga percaya sih. Tapi kan LPDP ngga pernah ada kuota, jadi ngga ada hubungan nya dengan lokasi juga kan?

Saya sendiri dapat tes tanggal 11 November 2015 (FGD, Essay On The Spot) dan 12 November (Interview). Tiap-tiap peserta beda-beda jadwalnya, dan ada juga tahap verifikasi awal untuk ngecek dokumen-dokumen yang diupload asli dan otentik.

·      Essay On The Spot
Pernah ambil IELTS? Yang pernah, kalian pasti udah paham tentang bentuk tes writing dan metoda-metoda menjawabnya. Di LPDP, kita ditugaskan untuk membahas suatu permasalahan (umumnya isu-isu hangat Indonesia) dan harus menyertai posisi kita dalam isu ini (setuju atau tidak setuju). Disini orang yang suka menulis pasti lebih mudah mengerjai nya, karena hanya diberikan waktu 20 menit termasuk waktu untuk berpikir. Saya? 5 menit pertama dihabiskan dengan bengong, sok-sok bikin root cause yang ujung-ujungnya malah bikin pusing pala barbie... Hehe

·      LGD
Leaderless Group Discussion juga sama kaya essay on the spot, kita ditugaskan untuk membahas isu-isu hangat di Indonesia dan merumuskannya bersama-sama kelompok. Biasanya sih udah tau dari awal kelompok kita siapa aja, jadi bisa kerjasama duluan di awal. Kalau kelompok saya sepakat tidak akan ada yg mendominasi maupun pasif. Semuanya kan sama-sama butuh, jadi mari kita saling bahu membahu wkwkwk. Pas diruangannya, diberikan dulu secarik kertas koran dan kertas untuk coret-coret. Saya sarankan, di kertas coret-coret ini ditulis semua ide kalian dan cuplikan-cuplikan perbincangan tim. Kertas ini akan dikumpul, sehingga bisa dievaluasi dan menjadi pendengar yang baik merupakan nilai plus.

Entah mengapa, pas LGD kelompok saya tidak merumuskan siapa moderator siapa notulen. Semuanya dapet giliran ngomong, ditengah-tengah ada yang memberikan kesimpulan sementara, bahas lagi sampai mau selesai, baru kesimpulan dirumuskan bersama-sama.

Walaupun belum tentu juga sama tahun ke tahun, tapi kurang lebih topik Essay on the spot dan LGD nya seperti berikut:
(a)    Kebakaran Hutan
(b)   Keselamatan kerja
(c)    Mudik bawa anak kecil
(d)   Ujian Nasional & Sistem pendidikan Indonesia
(e)    Hukuman mati untuk koruptor (topik Essay On The Spot saya)
(f)    Kemajuan teknolohi
(g)   Kebebasan berkendara
(h)   Hukuman kebiri untuk penjahat seksual anak (topik LGD saya)
(i)     Pudarnya nasionalisme
(j)     Kemiskinan tinggi tapi indeks kebahagiaan & demokrasi nya tinggi
(k)   Efek globalisasi
(l)     Bela negara
(m)  Efek kemajuan teknologi terhadap hubungan personal
(n)   Peraturan penghinaan presiden & simbol negara
(o)   Hukuman mati pemilik & pengedar narkoba
(p)   Pemuka agama seringkali menimbulkan kontroversi

·       Wawancara!
Nah ini dia tahap tes yang ditunggu-tunggu dan paling penting, katanya sih bobotnya wawancara sendiri 60% dan ada yang bilang 80%. Saya rasa udah banyak yang bercerita tentang tips-tips wawancara, jadi saya ceritain aja ya tes wawancara versi saya.

Pas dipanggil masuk, saya kebingungan nyari meja nomor 6. Saya tes di gedung keuangan Bandung dan aula nya dipisah-pisah tanpa sekat sehingga kira-kira ada belasan meja beserta 3 pengujinya masing-masing. Setelah celingak-celinguk, saya akhirnya dituntun juga ke meja paling pojok ujung suram. Hmmm, dari pintu aula sampai didepan meja saya baca ayat kursi aja, dan tidak lupa senyum. Saya menyalami ketiga penguji dan kemudian ketika dipersilakan duduk, baru lah saya duduk. Para penguji juga memperkenalkan dirinya, namun hanya menyebutkan nama sehingga pertama-tama saya tidak tau siapa yang psikolog, siapa yang professor. Tim penguji saya terdiri dari Bapak X, Ibu Y dan Ibu Z. (Maklum lupa...)

Saya sudah siap memperkenalkan diri, eh tapi pertanyaan pertama yang dilontarkan oleh bapak X adalah ‘ceritakan Tugas Akhir anda’. Langsung deh otak lompat untuk menjelaskan TA S-1 saya secara umum. Eh Bapak X (yang kemudian saya ketahui adalah professor mesin) menanyakan lebih detil lagi sampai sedetiiiil detilnya. Nah, jaga-jaga deh untuk kalian yang udah lupa skripsi/Tugas Akhir nya, buka lagi pdf nya :”)

Setelah selesai, Ibu Y (professor di bidang biologi) bertanya tentang TA S-1 saya dan apa korelasi nya dengan studi yang akan diambil. Saya menjelaskan persamaan konsep, namun memang tidak ada rencana melanjutkan TA S-1 saya lebih lanjut di S-2 nanti. Disini Ibu Y menyarankan agar tidak nyebrang atau putar haluan 180 derajat dalam mengambil S-2, karena poin plus nya adalah, ketika membuat thesis S-2 nanti lebih baik ada citation yang bertuju pada TA S-1. Hal ini akan membuat referensi TA yang dibuat di Indonesia lebih dikenal. Nah saya ngangguk-ngangguk dan berterimakasih aja, bingung juga mau jawab apa karena Ibu Y hanya menasihati.

Lalu Ibu Y dan Bapak X bergantian menanyakan hal seputar S-2 yang akan saya ambil, pertanyaan-pertanyaan nya adalah:
o   Alasan memilih jurusan dan universitas
o   Rencana ketika telah lulus S-2 (mau kerja? Sekolah lagi? Kalo kerja, mau kemana?)
o   Topik thesis yang akan dipilih
o   Yang bisa dilakukan untuk Indonesia setelah lulus dari S-2
o   Relevansi ilmu yang dipelajari dengan keadaan Indonesia
o   Motivasi untuk melanjutkan studi
o   Dll

Nah, terjadilah trouble numero uno.
Bapak X : “Kenapa ini surat rekomendasi dari atasan kerja? Atasan kerja paling Cuma taunya etos kerja saja. Kamu kan mau S-2, Harusnya ada rekomendasi juga dari dosen yang di bidang akademik.
Saya : “Soalnya di syarat, kalau udah kerja harus ada surat dari atasan. Saya ada surat rekomendasi dari dosen, tapi diperuntukkan TU Delft dan tidak sesuai format LPDP”
Bapak X : “ Kan surat rekomendasi ngga Cuma 1, bisa 2, 3 malah. Yaudah mana rekomendasi dosen nya?”
Saya : “...........emm.......ngga bawa.....”
Bapak X : “..............kok ga dibawa...(ketawa).. Kamu kan tau harusnya yang seperti itu dibawa untuk diberikan ke tim verifikator pas wawancara”
Saya : “(dalam hati : NGGA ADA TULISANNYA GITU PAK HUHUHU BAPAK JANGAN MARAHIN SAYA) Oh.. iya pak ada di HP saya”
Bapak X : “Yaudah buka hape nya, saya perbolehkan”

Oke lah gw santai buka hape, buka email, nah..........................trouble numero dos

NGGA ADA DI SENT MAUPUN INBOX EMAIL HUHU. Ketiga penguji ngeliatin saya sambil saya utak-atik hape kalem tapi padahal didalem panik. Saya udah bersyukur banget diberikan kesempatan buka HP, eh kenapa kok malah ngga bisa dicari. Sambil tetap stay calm, saya ingat bahwa saya udah masukkin semua hal nya di google drive. Ok! Lalu....................trouble numero tres

GOOGLE DRIVE NYA UDAH DI UNINSTALL DARI KAPAN TAU. Ya Allah.......download dulu dari App Store. Saran buat teman-teman, kalo pas interview, semua dokumen di print deh, rekomendasi kek, LOA kek, semuanya buat jaga-jaga....

Ibu Y : “Gimana? Sudah ketemu?”
Saya : “(dalem hati : BU INI DOWNLOAD DARI APP STORE DULU HUHU MANA INTERNET LEMOT) Iya Bu, apakah boleh saya memberikan bukti nya ketika selesai wawancara?”

Akhirnya Ibu Z (ternyata psikolog) bertanya lebih lanjut tentang keluarga, organisasi dan kepribadian. Alangkah kaget nya saya ketika Ibu Z bertanya panjaaaanggg lebaaar tentang pengabdian masyarakat saya yang bertemakan penghematan energi. Ibu Z sampai turut googling tentang acara pengmas ini.

Ibu Z : “Waah, ini ya Liter of Light HMFT ITB? Jadi lampu nya dari botol gini ya?”
Akhirnya mulai lah datang pertanyaan bertubi-tubi
Ibu Y: “Apa kendala pengmas ini? Kalian terinspirasi darimana? Udah dites di ITB?”
Ibu Z : “Bohlam lampu ini tahan berapa lama? Sekuat apa? Pemasangan nya gimana?”
Bapak X : “Apakah kalian mengecek keberhasilan bohlam ini secara berkala? Kalian bikin angket ngga?”

Saya menjawab semua pertanyaan tim penguji yang berfokus pada pengabdian masyarakat tersebut. Ternyata yang saya tidak pelajari, malah lebih banyak digali. Dan tidak lupa saya memberikan pdf rekomendasi Yth Yts (yang tersayang) Bpk Sutanto di google drive saya. Ibu Y mengambil hp saya dan mencatat (ngga tau apa yang dicatat) di buku. Sama dengan Bapak X dan Ibu Z yang selalu mencatat jawaban saya di buku mereka masing-masing.

Akhir tes, saya dipersilakan pulang namun saya diberikan kultum terlebih dahulu dari Ibu Y. Beliau bilang pulang dari Bandung, saya harus menyalami orang tua saya, berterimakasih kepada ibu dan bapak saya karena telah mendukung saya melanjutkan sekolah, mencium tangan mereka. Wah jadi terharu dinasihati seperti itu, “Iya Bu, terimakasih, saya akan melakukannya”, jawab saya.

Selesai lah tahap tes LPDP. Pulang dari Bandung, saya melakukan hal yang dianjurkan Ibu Y, dan menunggu tanggal 10 Desember dengan hati cenat cenut ala Smash dan mengirim doa yang banyak ke Tuhan YME. Alhamdulillah, kabar bahagia yang dinanti datang juga :D



Saturday, December 5, 2015

Mengejar Cita : Negeri Van Oranje

Wow, pas diliat terakhir ngepost itu Maret 2014. Lama banget, sekarang udah mau ganti tahun aja ke 2016. Untuk merapel semua kejadian pada tahun 2015 ini bakal butuh banyak post.

But overall, this year is a rollercoaster stuck in a maze. So many ups and down, kaya halilintar Dunia Fantasi. Mulai dari pengerjaan Tugas Akhir (Tiada Akhir), mengejar cum laude yang nyaris tak sampai, sidang, wisuda dari ITB, tantangan dunia pekerjaan, apply sana-sini, senangnya dapat gaji pertama, memprioritaskan sekolah S-2, mempersiapkan beasiswa LPDP, sampai kehilangan nenek tercinta. If life gives you lemonades, make lemons, life will be all like 'whaaat?'  Hehe, I strongly agree with you, Phil Dunphy. Okay enough with the lame introduction.

"Abis kuliah langsung sekolah diluar negeri? Yakin?"

Yap. This is the most common reaction that I get not only from my friends, but also my families. To sum up all of their concerns :
1) Kamu masih umur 20 tahun! Bisa apa diluar negeri?
2) Fresh graduate kaya kita kalau langsung kuliah S-2 lagi, tetep aja bakal jadi fresh graduate pas lulus! Karena belum ada pengalaman kerja!
3) S2 mah nanti aja, kerja dulu! Ngapain buang-buang uang kalau bisa nabung dari sekarang? Mending cari perusahaan yang ngasih gaji 2 digit

"Wah! Bagus, saya dukung! S-2 aja langsung!"

Nah, ada lagi nih yang jawab begini. Biasanya sih dilanjutkan dengan..
1) Kamu masih 20 tahun loh! Nanti umur 22 udah Master, di bandingkan sama orang lain yang 22 tahun tapi baru S1! Gampang cari kerja nya
2) Nanti langsung lanjut yah S-3, jadi doktor deh! Keren pasti doktor termuda dari Indonesia
3) Ngapain kerja masih muda, kuliah dulu lah! Kerja nya nanti bentar aja, terus nikah, ngga perlu musingin lagi perlu S2

There are two sides of every coin. Sama seperti pemikiran orang, banyak sekali opini-opini yang tentunya tidak dapat saya tulis satu persatu. Opini-opini tersebut lah yang sering menyalakan dan memadamkan semangat saya untuk kuliah lagi. Namun jika membanding-bandingkan lagi kedua sisi yang bertolak belakang tersebut, saya sepertinya lebih suka sisi kedua, yang mendukung saya S-2 lagi hehe... Kenapa? Masa depan saya bukanlah hal yang bisa didikte orang lain hanya berdasarkan opini mereka. I live a life that I want to live.

Hati saya sudah mantap untuk melanjutkan studi saya ke Belanda dan belajar di Delft University of Technology (TU Delft). Setelah masa-masa searching internet dan bolak-balik ke talkshow dan presentasi beasiswa, saya menyusun motivational letter / essay untuk pihak Delft sebagai syarat pendaftaran.

Oh ya! Beberapa hal yang dibutuhkan untuk mendaftar di TU Delft adalah:
1. Ijazah lulus
2. Transkrip
3. Ielts certificate
4. Essay
5. Reference letter
6. Resume
7. Passport
8. payment of application fee

Bagian paling sulit adalah menyusun Essay. Saya cukup beruntung memiliki senior yang baik hati seperti Kak Thio, yang membantu saya menilai dan memperbaiki essay saya. Kebetulan dia adalah mahasiswa S-2 yang sedang berkuliah di TU Delft. Essay ini bertujuan untuk memberikan insight kepada pihak universitas mengenai siapa diri kita, mengapa kita mau melanjutkan studi, dan seberapa dalam kita mengetahui program studi yang dipilih. Termasuk juga didalamnya adalah rencana topik thesis yang ingin dikeluti. Nah loh, masalahnya, topik TA di S-1 saya benar-benar ngga ada hubungan nya dengan program studi yang ingin saya ambil. Jadilah beberapa minggu saya habiskan dengan berkontemplasi dan keetik-apus-ketik-apus di laptop. Sampe-sampe beberapa pekerjaan terbengkalai karena saya ngebut untuk bisa apply di hari pertama pendaftaran dibuka.

Sekedar info, pembayaran dapat dilakukan dengan menggunakan credit card atau bank transfer. Teman saya bilang, dengan bank transfer, akan lebih cepat proses administrasinya dan berefek lebih cepat mendapat jawaban. Tapi karena ada charge yang menurut saya terbilang mahal, saya memilih credit card dengan surcharge 5 euro (medit) Yap, nunggu jawaban nya 6 minggu... Hehehe. Walaupun emang dibilang sama pihak TU Delft batas jawaban 6 minggu, pinginnya sih 1 minggu udah dapet. Biar ngga deg-deg an amat gitu. 

Pendaftaran dibuka tanggal 15 Oktober 2015, dimana saya telah menyiapkan segala hal yang diperlukan untuk syarat. Semua proses dikerjakan via online, jadi tidak memusingkan dan juga mudah dipantau.

Upload dokumen yang menunggu diapprove

Pada tanggal 19 Oktober 2015, saya mendapatkan email dari pihak TU Delft sebagai berikut.

Dan akhirnya, kemarin, 4 Desember 2015, saya mendapatkan kabar bahagia dan mendapat LOA dari TU Delft :)

Alhamdulillah
Senang, bersyukur campur ketir. Karena hal ini belum tentu membuat saya 100% kuliah di Belanda tahun depan. Masih banyak hal yang perlu diurus, salah satunya adalah..beasiswa. Ya, dibalik semua cita-cita saya, biaya adalah masalah utama. Mengapa saya bilang masalah? Karena.. saya tidak punya uang sebanyak itu untuk bisa kuliah dan hidup di Belanda hahaha, dan rasanya sedih kalau masih harus mengandalkan orang tua. Saya harap saya mendapat kabar bahagia lainnya yang bisa di share ke teman-teman.

Last but not least, this post is dedicated to my lovely grandma. Sejak kecil, Opung saya sering bercerita tentang masa kecilnya yang dihabiskan dengan sekolah di zaman kolonial Belanda. Opung saya adalah orang yang jenius dari kecil, buktinya saking pintarnya dia berhasil lompat-lompat kelas atau biasa disebut program akselerasi. Bahkan, salah satu guru nya yang sangat menyukai Opung sempat menawarkan dia untuk pergi hidup ke Belanda dan membiayainya bersekolah disana. Namun kondisi dulu tidaklah sama seperti sekarang. Ayah Opung menolak habis-habisan tawaran guru-guru tersebut sehingga cita-cita Opung sekolah di Belanda kandas.


Dear my lovely grandma, how are things in Heaven? You left us without giving me the chance to share this great news to you. I cannot tell you that I've been accepted to study in your dream country, but I know that you will always look after me from above. Now, I will continue to pursue and fulfill my dreams, our dreams. See you in Negeri Van Oranje!


Sunday, March 30, 2014

How She Met Her Daughter

jeng jeng jeng jeng jeng~ pa pa ra paaa pa pa raa~ raa ra raaa~ JRENG!!!

MLEKUM

Bukan, ini bukan tentang drama yang gue bikin sendiri mengadaptasi sitcom yang bentar lagi mau abis itu (hiks..) Ini cerita tentang perjalanan panjang dan mengundang tawa semua orang yang mendengar cerita ini kalau emak gw sedang bercerita. Cerita tentang bagaimana dia melahirkan gue. Dan karena ini lewat blog jadi kalian mungkin kesusahan membayangkan tanpa melihat ekspresi natural gue atau emak gue, tapi coba aja dulu membayangkan.


Cerita ini benar benar riil, nyata. Pada suatu hari,

Nyokap gue merasakan sakit perut yang amat sangat pada tanggal 6 Januari 1995, waktu itu jam menunjukan pukul 6 malam hari. "Mungkin udah waktunya, ya.. Ke dokter aja deh" Kebetulan waktu itu emak abis pulang kantor dan langsung tancap ke rumah sakit dimana dokter kandungan berada, tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu. Sesampainya di rumah sakit dan disuruh ngangkang (ini beneran dia bilang gini), dokter pun menyadari bahwa emak gw sudah masuk bukaan 2. Ada yang tau bukaan? Ya jadi, bukaan itu berarti kasarnya udah bisa masuk 2 jari dokter ke tempat tiap anak normal dilahirkan, yang berarti putri manisnya udah mau ancang-ancang keluar.

Mendengar hal itu, emak pun kaget dan bingung. Dokteryang sudah berpengalaman pun bingung melihat orang bingung ketika mau melahirkan, dia pun bingung, saya juga bingung. Ketika ditanya, dokter merasa resah kalau-kalau emak belum siap melahirkan, karena emang lebih cepat 5 hari dari perkiraan.

"Ibu.. ibu belum siap? Ibu harus siap bu, ibu akan menja.."
"Dok, berarti saya harus nginep ya? Tapi saya bawa mobil dok, nanti mobil saya di nginep-in ngga apa apa? Parkir kalau nginep berapa ya dok?"
".....NANTI SAYA BAWA PULANG KERUMAH IBU ITU MOBIL NYA"

Yah, itulah emak gw. Ga peduli mau melahirkan, apalagi karena udah pernah melahirkan sebelumnya. Pas Bang Vino, nyokap gw sampe denger musik2 klasik terus, pas jama gue, boro-boro...yang ada dikasih lagu Koes Ploes. Masih mending, mungkin dikasih lagu dugem-nya Tina Turner. Jaman abang gw dibela-belain beli kelapa muda ijo biar katanya pinter. Jaman gue, boro-boro, yang ada katanya dia minum pepsi. Jaman abang gue, kemana-mana nyetir pake mobil, jaman gue? Jatoh di kereta api. Katanya sih biar sehat jalan naik turun halte, tapi gue yakin sebenernya karena ga mau bayar bensin.

Yak balik lagi.

Menuju tengah malam, perut emak kian kontraksi. Tapi ngga nambah-nambah bukaannya. Terus-terus an sampe paginya tanggal 7 Januari 1995, nyokap ngga bisa tidur. Sehingga ketika udah ngga sanggup lagi menerima cobaan yang begitu berat, emak minta dokter biar menyuntik hormon mempercepat pembukaan. Namun apa daya, bukan keluarga Malau kalo idup ngga dibikin lucu dikit sama yang diatas.

"Dok, pasien kamar blabla minta disuntik hormon blabla kondisinya blabla", telepon suster.
"Duh bentar dong ini saya lagi main golf, sus"

JGERRR

Emak yang mendengar suster melaporkan berita tersebut langsung ngambil telepon rumah sakit
"HEH GUE UDAH SAKIT, BAYAR PULA! LU MALAH MAIN GOLF, CEPET LU SINI SEBELUM TU DOKTER PUNYA BOLA SAYA KEMPESIN"

Beberapa jam kemudian datanglah dokter tersebut, dengan permintaan maaf atas kesalahannya. Tp gw yakin dia minta maaf supaya bola nya ngga dikempesin sama mak-mak mau melahirkan yang hormonnya lagi gila-gilaan. Namun ketika diperiksa dan disuruh ngangkang lagi, bukaan yang tadinya 2 menjadi......0

JGERRRR

"INI ANAAK MAUNYA APAAAAAA"

Dan itu adalah pertama kalinya peristiwa seorang ibu menyumpah pada anaknya yang belum lahir yang berhasil dicatat di Guiness World Record Book. Bayangin, gue belom lahir aja udah disumpahin, sama emak sendiri. Kurang berbahagia apa masa pra-kecil gue? Boro-boro dibilang 'keluar yaah anak manis..' ini malah 'LO KENAPA SUSAH KELUAR ANAK *piip*'

Emak yang stress pun ngga betah tinggal di rumah sakit. Akhirnya emak nelpon Tante Dame, salah satu adik perempuan nya untuk ke rumah sakit dengan membawa baju ganti nya. Tante Dame mah nurut-nurut aja, pas ditanya baju ganti buat apa, Tante Dame langsung kaget karena mendapati kakaknya mau kabur.

"Gila apa lu, Ros? Lu kan lagi di rawat bersalin, mana bisa kabur dari rumah sakit??"
"Makanya gw nyuruh lo bawain baju ganti, gw mana bisa kabur pake daster biru-biru gini"

Setelah menemani kakaknya mengganti baju di toilet lantai dasar rumah sakit, Tante Dame pun harus berbohong ke semua suster yang nanyain keberadaan emak gue, dengan jawaban "lg ke belakang, pingin muntah tadi". Sedangkan kakaknya? Setelah mengganti baju menjadi baju jalan, keluar toilet tanpa rasa bersalah atau membuat wajah patut dicurigai, memanggil bajaj dan meluncur ke Cikini.




Cikini.. tempat yang terkenal dengan emas. Emas kiloan, emas batangan, cincin, kalung, bersinar, berseri, membutakan pandangan para wanita normal, bahkan wanita yang harusnya diopname bersalin sampai harus kabur. Disitu mak gw menghabiskan waktu berjam-jam melihat-lihat emas, walaupun ngga membeli, karena boro-boro bawa ATM, dompet aja kaga. Cuma bermodal uang-uang receh buat bajaj dan beli sprite (MASIH AJA SPRITE YA ALLAH)

Ketika memasuki petang, tiba-tiba emak gw merasakan hal yang tidak lazim di dudukan kursi sebuah toko mas. Yang tadinya kering, tapi kok basah? Ngompol? Ah ga mungkin, namanya pipis pasti kerasa dan bisa ditahan, ngga mungkin tiba-tiba datang dan langsung loss. Apakah..apakah.....??

"Bu? Kok tiba-tiba pucat?"
"...cah...Pecah..."
"Apa bu? Apa yang pecah?"
"...tuban...aduh..."
"Hah apa bu?"
"......KETUBAN GUE PECAAAAAHHHH"
"HAAAAA?????? YA AMPUN BUUUU????"

Sebuah toko mas kecil yang tadinya damai berisi kokoh-kokoh cina dan pengunjung-pengunjungnya, seketika berubah menjadi scene film The Walking Dead. Semua riweh, tereak-tereak. Ada yang manggil satpam setempat, ada yang langsung siaga ngedudukin nyokap di sofa, ada yang manggil bajaj langsung, dan ada yang beres-beres emas....oke yang terakhir ga mungkin, kecuali dia yakin bayi yang bakal keluar dari perut emak bisa langsung salto dan mengisap seluruh emas nya memakai isapan udel.

Di bajaj, nyokap meraung-raung sambil melebarkan kaki dan tiduran di dudukan bajaj. Satu kaki ngadep keluar, satu kaki di pundah si abang bajaj, yang katanya seorang bapak-bapak panikan dan ikutan tereak "haduu sakit sakittt ya bu?? haduu" padahal bukan dia yang lagi kontraksi.

"PAAAAAKK CEPETAN PAAAK"
"IYAAA BUUUU!! SAYA NGEBUT INI BUU!! HADUU SAKIT YA BU?? HADUU SAKITT"

Mungkin fenomena ini ada penjelasan ilmiah nya, misalnya kalo lagi deket sama orang yang lagi keringetan, kita bakal ikut merasa panas. Mungkin kalo lagi deket ibu-ibu hamil mau melahirkan, kita juga ikut pembukaan? Tapi tetep, gw ga bisa membayangkan hal ini terjadi kepada pria, ga bisa.

Sesampainya di rumah sakit, semua suster UGD langsung kebingungan dan geger. Ini kenapa supir bajaj bergelimang air mata? Mungkin istrinya yang dibelakang ini. Tapi ketika ditanya, apakah anda keluarga nya, oleh suster kepada supir tersebut. Supir itu cuma berkata, "TOLOOONG SUS SELAMATKAN IBU ITUU! IBU ITU ORANG BAIK SUS" terus menerus. Dan itu pertama dan terakhir emak melihat supir bajaj tersebut. Orang yang baik.

Sesampainya di rumah sakit dan di kamar yang seharusnya, suster-suster di lantai 6 hanya teriak.
"Ibuuuu kemana ajaaa dicariiiin"
"Saya kira ibu dibawa orang ga dikenaaal"
"Ya ampun ibuu ngga kasian sama bayinyaa??"

Itu cuma segelintir orang yang perkataannya sempat masuk ke telinga nyokap gue. Katanya sih ada juga yang ngetawain, tapi ya gue juga bakal ngetawain kalo ngeliat orang aneh yang kabur demi melihat emas kaya yang mak gue lakukan.

Waktu menunjukkan pukul 6 petang. Bapak pun datang, bersama dengan Bang Vino yang sedang berumur 5 tahun. Nenek pun datang, dan dengan setia mengelus-elus perut emak gue yang sedikit lagi pembukaan 8. Lalu ketika jam menunjukkan pukul 7, Bapak ijin pulang. Katanya biar Bang Vino ada temennya dirumah. tapi semua orang tahu....DIA GA MAU NGELIAT ISTRINYA LAHIRAN.

"HUOOOOOIII!!!!!", teriak mama sambil ngelempar bantal.
"LU KIRA INI ANAK GUE AJA? LU CUMA 1 JAM DISINI LU KIRA GUE DIOPNAME GARA-GARA DBD? INI GUE MAU LAHIRAN ANAK KITAAAA"

"Nanti aku juga kesini lagi kok, biar ngeadzanin dia, tapi mau nganter vino dulu..."
"INI ADA TANTE NYA DISINI, KENAPA GA DITINGGAL AJA?"
"Tapi dia harus dirumah biar aman.."
"BILANG AJA LU GA PINGIN LIAT LAHIRAN!"
"ya....aku...trauma ma...."
"HOSH HOSH HOSH.."
"nanti kesini kok...."
"...........HOSH...........HOSH"
"telepon ya kalo udah keluar"
"LO KIRA ABIS LAHIRAN LANGSUNG BISA MEGANG HAPE??"
"*ngibrit*"

Yang diatas pokoknya yang kepslok itu emak, biar efek tereaknya lebih kerasa gitu. Oiya, bokap bukan ngibrit karena takut diamuk, tapi karena benda selanjutnya yang siap-siap dilempar emak adalah vas bunga. Yang kemudian ujung-ujung nya juga ngga dilempar emak walaupun bokap udah nutup pintu, soalnya dia bilang, males juga kalo disuruh ganti rugi. Gertak sambel doang.

Duh capek ya, pantes aja buku tebel harganya mahal, capek banget ngetik udah ah..

In the end, lahiran berlangsung normal dan dengan didampingi nenek dan tante, nyokap melahirkan seorang gadis kecil yang lucu dan menggemaskan bernama Amanda Castolina. Sesaat setelah gue berhasil dikeluarkan dan dipotong tali ari-ari nya, bokap langsung masuk ke ruang bersalin. Ternyata dia ngga pulang, dia cuma nunggu di mushola rumah sakit sambil nitip pesen ke suster kalo udah selesai proses nya. Dan adegan memeluk bayi baru ditengah-tengah ayah dan ibu seperti iklan-iklan susu di tv pun terjadi. Sesaat setelah itu, nyokap bisa duduk biasa dan langsung memberikan tugas ke bokap sebagai penebusan dosa karena tidak melihat proses lahiran anak terakhirnya.

1 Jam kemudian, bokap datang dan menghadiahkan nyokap gue yang sedang menyusui gue 1 cincin emas, dibeli di toko yang terakhir didatangi emak, tempat ketubannya pecah, dan mendapat harga spesial, super spesial.

Thursday, June 13, 2013

He's dead, THANK GOD

Keluarga gw lagi berkabung, karena rumah udah kehilangan satu anggota, yaitu ikan arwana yang sangat disayangi bokap.

Kenapa gw bilang disayangi bokap? Karena bokap adalah tipe bapak-bapak yang lebih menyayangi ikannya daripada anaknya sendiri.

Hampir 10 tahun, sayang sekali. Setiap pulang dari kantor, bokap gw selalu bertanya kepada si mbok "Ikan udah dikasih makan belum?"

Ya, bahkan kepentingan makan ikan nya lebih diutamakan dari perut kosong anak kandungnya yang berwujud manusia. Aktivitas menyayangi ikan ini udah dilakukan bokap setiap hari, setiap bulan, setiap tahun, untuk hampir 10 tahun. Tapi karena golden red sekarang sudah mati, ya mau gimana lagi. Ini menjadi sebuah tamparan kuat untuk bokap.

Malam itu, bokap tiba2 nelpon dengan suara rintih.
"Dek, kamu pulang ya... Papa mohon kamu pulang.."
"Kenapa pa?? Eh kenape si tiba2??"
"Golden red mati, dek. Papa ga kuat ngehadepin ini sndirian, mama kamu ga sayang ikan, abang kamu jauh.."
"...."

Sebenernya bahagia juga, ternyata bokap minta ditemenin dirumah hanya sama gw, anak nya yg dinomor dua-kan dari ikan. Berarti sebenernya bokap sayang juga sama gw, dan ini menjadi momen dimana gw bisa menyingkirkan ikan dari kehidupan bokap. BYE BYE GOLDEN RED. Ya gue sedih sih, tapi mau gimana lagi, mulai skarang setiap pulang, GILIRAN GUE yang ditanya bokap "Dek sudah makan belum?"

:)

MUAHAHAHAHAHA