Living and Studying in the Netherlands

Halo teman-teman yang berbahagia, apa kabar? Baik-baik toh?
Tak terasa sudah lebih dari setahun saya menginjakkan kaki di Belanda dan terakhir menulis di Blog. Awal mula kuliah disini selalu kepikiran ah nulis ah, apa aja pokoknya tentang kehidupan dan perkuliahan disini. Sayang sekali wakanda eh wacana forever. Berhubung saya sekarang lagi gabut, pingin deh nulis, semoga bisa merangkum setahun kebelakang :)


First time arriving : The Euphoria


Wow, Belanda! Wow, naik sepeda semua! Wow, orang-orang tertib banget pada ngantri! Wow, udara bersih banget ini jarang ngupil!

Semua yang indah-indah disuguhkan depan mata. Saya tinggal di kota Delft, kota yang relatif kecil namun cantik, dengan pusat kota yang dipenuhi kanal dan beberapa toko Asia. Terlebih banyak teman seperjuangan alias para mahasiswa yang juga sama-sama kuliah di TU Delft, semangat hidup nambah 100x lipat. Setiap hari ada aja yang dilakuin, update sosmed, explore kota, duduk-duduk di taman, ngumpul dan makan bareng temen. Beberapa bulan pertama dipenuhi tawa dan keceriaan, sering juga sibuk membanding-bandingkan. Kebanyakan perbandingan itu tentang harga sih...kasian kan disini bawang putih 3 siung senilai 2 euro (35000 rupiah). Tapi setiap complaint gitu ke orang tua, mereka selalu negur, "huss udah dikasih beasiswa tinggal makan tidur belajar aja belagu lu gue kepret lu". 

Alhamdulillah dengan adanya beasiswa dari LPDP, pikiran tentang konversi euro ke rupiah jadi lebih ringan. Tapi tetap karena prinsip hidup ''prihatin'', saya lebih sering masak daripada makan diluar. Setelah 4 tahun kuliah di luar kota, hampir 2 tahun kerja di pedalaman Papua, saya sedikit lebih percaya diri dengan kemampuan masak yang at least edible lah.. Ngga perlu beli nasi goreng 5 euro di restoran, walaupun malem-malem selalu berharap ada mas tukang nasgor lewat sih. Beli baju, jaket dan perlengkapan rumah juga bisa dari toko secondhand atau yang biasa disebut kringloopwinkel. Di Belanda, toko-toko yang menjual barang bekas banyak sekali dan orang-orang disini tidak malu membeli furnitur, pakaian, alat masak bahkan buku-buku bekas.


All about studying and learning


Kuliah di TU Delft, sama seperti universitas lain di Belanda, pace nya sangat cepat. Sistem kuartal mengharuskan kita menghabiskan 12 minggu perkuliahan dan ujian. Beban nya kaya ujian akhir / UAS tapi 2 setengah bulan sekali, kira-kira gitu deh. Bagi yang ada mata kuliahnya tidak lulus dikuartal sebelumnya, harus mengulang di kuartal berikutnya dan nilai tertinggi akan diambil. Tapi awal-awal saya sebisa mungkin ngga mau ada yang ngulang, karena ada regulasi international student harus menyelesaikan minimal 30 credits di tahun pertama, jika tidak, dipulangkan. Total credits untuk satu tahun sendiri terdiri totalnya 60 ECTS, dan jika dijumlah kan dengan thesis dan internship di tahun kedua jadi 120 ECTS


Kehidupan perkuliahan di TU Delft ngga seindah foto-foto di Instagram. No Truer Words Have Ever Been Spoken.

Mulai lah tugas, deadline, assignment berdatangan. Kalau ngomongin dikasih tugas seminggu sekali sih fine-fine aja. Tapi kalau empat-empat nya course ngewajibin gitu, disamping kita harus janjian sama tema se-grup yang masing-masing punya kehidupan pribadi dan deadline tugas lain, dan tak lupa kita juga harus belajar modul-modul kuliah dari presentasi dosen dan handbook. Sebagai mahasiswa Sustainable Energy Technology, saya banyak bertemu teman-teman dari berbagai background seperti lulusan teknik mesin, teknik lingkungan, teknik elektro, dan masing-masing individu memiliki insight yang berbeda-beda mengenai suatu masalah. 

Bye-bye tidur cukup, LDR-life dan ambisi travelling. Sabtu minggu dipake untuk ke perpustakaan. Yaudah sabtu minggu dipake cukup kan? Well, masalahnya buat bisa duduk di perpustakaan juga another story lagi wkwkwk. Perpustakaan TU Delft dibuka tiap pukul 8 pagi, dan jika mendekati musim ujian, kamu bisa menemukan antrean puluhan orang yang berburu tempat untuk belajar. Awal-awal saya berpikir, apaan sih nih orang Londo ngga punya meja belajar ya dirumah? Ehh ternyata terbukti, kasur + netflix dikamar itu ibarat black hole. Entah mungkin saya yang ngga punya disiplin diri, tapi duduk di perpustakaan membuat saya (dan terbukti mahasiswa2 TU Delft) lebih produktif.
Disini saya ingin mengenang masa-masa musim dingin, ketika pulang dari perpustakaan sudah lewat jam 12 malam, bersepeda melawan -10 derajat celcius bersama teman-teman seperjuangan, Tono dan Aldyth.


It's been a year!

Banyak cerita unik yang berkesan setahun kebelakang. Mulai dari saya jadi hobi jualan barang bekas (wkwk), ikutan nemenin jompo di Den Haag sembari digaji, dan travelling ke 10 negara ketika winter break dan summer break. Tapi kayanya yang paling berkesan itu pengalaman jatuh saya dari sepeda yang sampai membuat geger orang-orang dengan ambulans wkwk. Ceritanya pagi-pagi ketika wintertime, pukul 8 pagi lebih tepatnya, saya pergi berencana ke gedung kuliah untuk belajar, karena sore nya saya harus ujian kuliah photovoltaic. Entah bagaimana, saya jatuh dari sepeda dengan sendirinya, tidak tersandung, tidak ditabrak, dimana kepala & muka saya mencium aspal sampai dua gigi saya patah. Wkwkwk, pasalnya Agustus 2017 saya pernah kecelakaan motor di Indonesia sekitar 2 minggu sebelum berangkat ke Belanda. Trauma kepala saya tiba-tiba muncul dan saya pun pingsan di tengah jalan, lalu entah kenapa bangun di gedung EEMCS lantai 2, dan pingsan lagi. 

Asli kaya lagi main film yang orang nya abis digebukin terus lupa ingatan. Saya ditemukan salah seorang petugas kebersihan gedung dan beliau langsung memanggil tim emergency gedung. Ketika itu saya ngga merasakan sakit apa-apa, hanya saya selalu menguap, mau muntah dan merasa ngantuk sengantuk-ngantuknya orang yang begadang 1 minggu wkwk lebay. Orang belanda ini seringkali menepuk-nepuk saya untuk membuat saya tetap tersadar. Saya ingat menepis tepukannya dan bilang "Please leave me, I'm so sleepy" wkwkwk tiba-tiba saya tersadar berada di ambulans, karena saya langsung diinfus. Wow, gw naik ambulans bo, ngiung-ngiung gitu. Tiba-tiba saya sampai di rumah sakit, dan menjalani proses CT-scan. Setelah saya berhasil agak siuman dikit, dokter mulai menanyakan riwayat kesehatan dan kejadian tadi pagi, lantas dia kaget ketika saya dulu pernah head trauma. Walaupun hasil CT-scan bagus-bagus saja, dia tetap mengkhawatirkan gejala-gejala ngantuk dan mau muntah. Tetap saya dipersilakan pulang dari rumah sakit, dan menjalani ujian photovoltaic dengan semestinya. Biaya pengobatan, ambulans, bahkan dental crown di-cover oleh asuransi kesehatan saya. 

Doctor : "You've been in accidents multiple times, such a daredevil!"
Me : "No, I'm just clumsy"


2019 is here!

Wew ngga sabar nunggu pergantian tahun. 2019 will also be a special year. Tahun depan mudah-mudahan saya lulus dari TU Delft (mudah-mudahan tepat waktu). Kesibukan saya sekarang adalah mencari topik thesis sembari kerja di salah satu perusahaan renewable energy di Hengelo, Belanda. Hal yang paling berkesan selama bekerja disini adalah kebiasaan orang-orang Belanda yang mengkonsumsi kopi terus-terusan wkwk. Setiap pagi masuk kantor, setiap bertemu orang, setiap mau memulai meeting, semua menawarkan "Would you like some coffee?". Kayanya ngga bakal pernah bisa ngilangin caffeine addiction disini. Mungkin bisa jadi resolusi tahun depan?


11/10/2018, Netherlands,Amanda Castolina Malau

Comments

Popular posts from this blog

Mengejar Cita : Menjemput Beasiswa LPDP

mas bro