Monday, July 31, 2017

Biji Kopi Terbaik

"Istri itu seperti biji kopi sekelas Panama Geisha dan Ethiopian Yirgacheffe, Le. Kalau kita sebagai suami -yang membuat kopi- memperlakukannya tidak tepat, rasa terbaiknya tidak akan keluar. Aroma khasnya, rasa aslinya yang seharusnya tidak keluar, Le. Rasanya nggak pas."
"Kalau kita sudah memilih yang terbaik, seperti Ayah memilih Ibu dan kamu memilih istri kamu, seperti kita memilih biji kopi yang terbaik, bukan salah mereka kalau rasanya kurang enak. Salah kita yang belum bisa melakukan yang terbaik sehingga mereka juga menunjukkan yang terbaik buat kita."
--  Critical Eleven by Ika Natassa

He used to tell me how lucky he was to have me.

Seakan aku adalah biji kopi terlangka seperti penjelasan diatas, ia melihatku dengan sepasang bola mata cokelat yang berbinar-binar.

He used to tell me how he loved my unique imperfections.

Seakan aku adalah biji kopi terunik , ia mencintai sifat ku yang keras kepala, kesulitan ku mengeluarkan uang berlebihan, serta hobi anehku yang senang berbelanja pakaian-pakaian bekas.

He used to tell me how much he loved me, and exceeded the amount of my love for him.

Seakan aku adalah biji kopi terbaik, ia sering mengutarakan cinta nya yang melebihi semua jumlah cintaku padanya. Ketika aku mengucapkan cinta sedunia, ia akan membalas cinta se antariksa.

Ketika aku berusaha untuk membenci nya agar bisa cepat melupakannya, hati dan pikiran ku tidak lagi selaras dengan keinginan.

Aku ingin membencinya, tetapi yang tersisa hanyalah ingatan-ingatan bahagia bersama nya. Bahkan memori kecil pun kusapu pelan-pelan dan kususuri tiap detik dengan rasa yang dulu ada.

Disaat dia memberikan boneka beruang berisikan gabus yang bisa diubah menjadi bantal leher, berhubung waktu itu aku akan cuti pertama setelah setengah tahun tidak pernah menginjak rumah.
Dia mengalungkan nya dileherku dan mengubah nya menjadi boneka beruang. Ia begitu fokus hingga ia tidak sadar aku memperhatikan wajahnya, kebetulan sekali pikirku, ia memiliki rupa yang mirip dengan beruang yang sekarang menjadi wadah tetes air mata ku setiap malam disamping ketika aku tidur dikamar ini.


Aku ingin membencinya, tetapi mengapa terus kenangan indah demi kenangan indah yang terputar di kepala.

Disaat dia datang di hari Minggu Pagi ketika kami masih bersama di Papua dengan seplastik udang mentah. Ia sangat menyukai masakan ku, entah itu dipaksa atau memang dia suka. Aku bingung namun aku tetap menyanggupi memasak tom yam udang untuk mengisi perut nya. Ternyata dia malah suka dengan hasil yang kudapat dari cari-cari resep google, dan mengelus kepala ku sembari memuji keahlian ku mengolah udang. Ia begitu fokus makan hingga ia tidak sadar aku memperhatikan wajahnya, dimana setiap gigitan yang dia rasa enak luar biasa dia akan memejamkan mata sembari keringat mulai bercucuran dari kulit kepala dan dahinya.

Aku ingin membencinya, tetapi tidak bisa. Karena hati kecil ku pun sadar, aku bahagia bersamanya. Hingga aku tersadar, kesalahan-kesalahan yang aku perbuat, apakah membuat ia mampu melupakan momen-momen bahagia kami bersama?

"Kamu adalah dunia ku sekarang, dengan keberadaanmu yang merubah segalanya dan menjadi bagian besar dalam hidupku yang kujalani ini."

He said that to me, how I have changed him and I'm now becoming his life.
Hal yang sama juga berlaku terhadapku. Aku sangat mencintainya, hingga semua hal disekitar ku mengingatkan semua tentangnya.

Disaat aku menyikat gigi, aku ingat kebiasaannya memuntah-muntahkan odol di wastafel.
Disaat aku ingin beranjak pergi, aku ingat kebiasaannya mengecek jangan sampai ada barang ketinggalan. Disaat aku menyiapkan kopi, aku ingat kebiasaannya memperhitungkan perbandingan kopi, gula dan air dicangkir nya.

Bagaimana caranya, melupakan seseorang yang sudah menjadi bagian dari hidup dan keseharian mu? Dimana wangi kulit nya bahkan masih bisa tercium ditengah-tengah kesendirian ku ini?

Bagaimana caranya, membenci seseorang yang pernah mengutarakan keinginannya untuk menikahi mu dengan segala keterbatasannya?

Malam ia meminangku, tidak ada balon-balon atau teriakan kejutan dari orang ramai, tidak ada yang mengabadikan momen itu bahkan tidak ada alunan lagu yang menyertai. Yang ada hanya kami berdua, berbasuh air mata di pipi, mengutarakan janji untuk saling menjaga. Dan di malam itu, Demi Tuhan, aku berdoa kepada-Nya, agar jadikanlah lelaki didepan ku menjadi pasangan ku kelak, karena aku menginginkannya dalam hidupku, seperti ia menginginkan aku di hidupnya. Tuhan, hanya dengan kehendak-Mu lah, kumohon biarkan lah niat baik nya menjadi pinangan yang pertama dan terakhir di hidupku. Dan dengan air mata yang terus mengalir di pipi kami, aku menjawab, "Ya, aku mau.."

Mataku hanya terpaku pada secangkir kopi yang sedari tadi sudah aku seduh dan sekarang dingin.

Biji kopi seperti apa sebenarnya yang sepadan dengan diri ku sekarang?

Apakah aku masih biji kopi terbaik yang beraroma khas, atau hanya ampas.

Jakarta, 7/31/2017
01:35 am

No comments:

Post a Comment